Jejak Kesetaraan Gender dalam Ajaran Hidup Yesus
09 Dec

Jejak Kesetaraan Gender dalam Ajaran Hidup Yesus

-

Tulisan ini terinspirasi dari salah satu sesi Kampanye 16 HAKtP Komisi Keadilan Perdamaian KAJ berjudul “Ajaran Sosial Gereja, Surat Gembala tentang keadilan dan kesetaraan gender” oleh Mgr. Adrianus Sunarko, OFM.

PENGANTAR: Mari kita menjelajahi jejak kesetaraan gender dalam ajaran hidup Yesus Kristus dan bagaimana nilai-nilai ini membentuk dasar bagi konsep kesetaraan dalam masyarakat dan Gereja

PEMBUKAAN: Perjuangan untuk kesetaraan gender berakar dalam ajaran dan tindakan Yesus Kristus, bahkan getaran pesan transformatif ini bergema sejak awal hidupNya. Jika ditinjau lebih jauh tampaknya kesetaraan gender bukan konsep modern tetapi terselip dengan halus dalam kehidupan Yesus terlebih dalam teladan yang diberikan oleh orang tuaNya.

KELUARGA KUDUS & KESETARAAN: Keluarga Kudus, terdiri dari Maria, Yosef, dan Yesus, merupakan paradigma saling hormat dan tanggung jawab bersama. Maria, sebagai ibu Yesus dipercayakan dengan peran ilahi, sementara Yosef yang menyadari kekudusan misi ini tanggap memberikan dukungan yang teguh. Lebih lanjut Yesus pun bertanggung jawab sebagai anak untuk menjalankan panggilan misi dari Allah, namun tidak melupakan hormat bakti kepada kedua orang tuaNya; Sampai akhir hayat Yesus memastikan kelangsungan hidup Bunda Maria ditengah aturan hidup budaya saat itu. Kemitraan harmonis ini tidak hanya mencerminkan kesetaraan intrinsik, terutama antara Maria dan Yosef, tetapi juga membentuk dasar kesetaraan gender yang berakar pada rasa cinta dan hormat.

PENDEKATAN RADIKAL YESUS: Sepanjang pelayananNya, Yesus berinteraksi dengan perempuan sebagai sesama dan menentang norma-norma sosial yang merendahkan martabat manusia serta menentang praktik diskriminatif yang terjadi pada zaman itu. Dalam budaya dimana perempuan sering menghadapi marginalisasi, Yesus malah menyambut mereka sebagai murid, teman percakapan, dan pembawa kebijaksanaan yang mendalam. Injil Lukas (10: 38-42) menceritakan afirmasi Yesus terhadap hak Maria (dan Marta) untuk terlibat dalam diskusi teologis; Ini adalah sebuah tindakan yang menantang peran gender tradisional saat itu.

AJARAN GEREJA TENTANG KESETARAAN GENDER: Gereja Katolik mengakui martabat setiap orang dan menekankan nilai setara antara laki-laki dan perempuan. Panggilan untuk lebih mengakui kontribusi perempuan dalam Gereja dan masyarakat juga telah banyak diserukan sejak lama. Paus Yohanes Paulus II menggemakan hal ini melalui Surat Apostolik tentang Martabat dan Panggilan Kaum Wanita (Mulieris Dignitatem) pada tahun 1988, yang menekankan martabat perempuan sebagai citra Allah. Lalu, Surat Gembala KWI tahun 2004 juga bicara tentang “Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki sebagai Citra Allah”. Bahkan dalam eksortasi apostoliknya, Evangelii Gaudium (Kegembiraan Injil), Paus Fransiskus kembali menggemakan panggilan untuk lebih mengakui kontribusi perempuan dalam Gereja dan masyarakat, serta menganjurkan pendekatan yang lebih inklusif dalam pengambilan keputusan.

ANTI-KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN: Pesan inti Injil tentang kasih dan keadilan secara inheren (erat) mengutuk segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan terhadap perempuan. Hal ini diterapkan Gereja melalui ajarannya yang mengutuk kekerasan dan menjunjung tinggi martabat manusia. Gereja kembali menekankan kewajiban untuk “mencegah dan menindak kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak” ini melalui Compendium of the Social Doctrine of the Church; yaitu panduan Gereja yang memperkokoh dan menopang umat untuk berkehendak baik sesuai ajaran Gereja di dalam ranah sosial.

PENUTUP: Narasi Injil dan ajaran Gereja mengajarkan bahwa perjuangan untuk kesetaraan gender adalah bukanlah hal baru atau modern melainkan suatu panggilan abadi yang ditanamkan melalui kehidupan dan ajaran Yesus Kristus. Kiranya dengan aktif menentang kekerasan terhadap perempuan, kita menghormati warisan Yesus dan ikut berkontribusi untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan penuh kasih. Semoga pada masa Adven ini kita juga bisa berefleksi dari Keluarga Kudus yang mengakui peran setara dan tidak terpisahkan yang dimainkan Maria dan Yosef dalam narasi ilahi.

16 HAKtP Pelayanan Sosial #16Days #16HAKtP #GerakBersama #OrangeTheWorld #PPADR