Sikap Yesus terhadap Perempuan
16 Jul

Sikap Yesus terhadap Perempuan

Ivana Pauline

Di balik tirai persembunyian dengan berbagai label yang dilekatkan pada manusia, ada banyak kisah perempuan – perempuan di Alkitab yang harapan dan kerinduannya tak terlihat. Perempuan-perempuan itu seperti hidup dalam batasan dan bayangan, berlindung dari penolakan, berjuang dalam penderitaan, berusaha lepas dari jejak masa lalu serta keterbatasan sosial yang tak tersampaikan.

Bagaimana sikap, pandangan dan tindakan Yesus terhadap kaum perempuan ?

Webinar Sub Seksi Kesetaraan Gender sesi ke-3 mengangkat tema mengenai “Sikap Yesus terhadap Perempuan” melalui kisah empat perempuan dalam Alkitab yang mengalami pergumulan hidup yang berbeda – beda tapi merasakan kasih Yesus yang luar biasa. Webinar ini dibawakan oleh Mbak Rosa dan tim sebagai moderator serta Prof. Dr. Kristi Poerwandari M. Hum., Psikolog (Bu Kristi) dan Sr. Caecilia Supriati RGS (Suster Lia) sebagai narasumber. Gereja pun ikut berbicara,  setelah Konsili Vatikan II (1965), ajaran – ajaran Gereja senantiasa menekankan bahwa laki – laki dan perempuan diciptakan setara menurut citra Allah (Bdk. Kej 1:27-28). Gereja meyakini bahwa laki – laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan menyangkut hidup meng-gereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Surat Gembala KWI, 22 Desember 2004).

Dengan empat kisah pergumulan hidup, kita diingatkan kembali bagaimana Yesus mempunyai cara yang berbeda untuk memandang kedalaman hati, memanggil nama dan mengutus kita sebagai saksi-Nya.

Kisah Marta dan Maria (Lukas 10 : 38 – 42). Ketika Yesus mengajar, Maria duduk dekat kaki Yesus dan mendengarkan pengajaran-Nya sedangkan Marta sibuk melayani dan melakukan pekerjaannya. Kata Yesus, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10 : 40 – 41). Tentunya, Yesus ingin menunjukkan kasih-Nya dengan mengubah sudut pandang yang kuno dimana perempuan tidak harus sibuk melayani dan berada di posisi belakang. Yesus ingin kita mempunyai kerinduan untuk duduk mendengarkan firman-Nya dan berserah pada-Nya. Yesus berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” Kisah ini menggambarkan tirai pembatasan dalam sebuah peranan berdasarkan gender ataupun jenis kelamin tertentu (terutama perempuan) yang menghambat perkembangan potensi seorang manusia. Yesus ingin menunjukkan bahwa perempuan (Marta) mempunyai kesempatan yang sama dengan laki – laki untuk ikut berinteraksi, belajar, berkembang dan berkarya.

Kisah perempuan yang distigma karena mengalami pendarahan selama 12 tahun (Markus 5 : 25 – 34). Selama 12 tahun, hidupnya dibalut tirai penderitaan karena dianggap najis dan dikucilkan oleh masyarakat. Penantian panjangnya terjawab ketika ia berada di kerumunan orang banyak; Perempuan itu menyelinap dan menjamah ujung jubah Yesus. Yesus merasakan ada kuasa yang keluar dari diri-Nya. Ketika Yesus bertanya siapa yang menjamah-Nya, perempuan itu tampil dan mengaku walau dengan diliputi rasa takut dianggap kurang ajar. Yesus tidak menghukumnya malah sebaliknya berkata “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat.” Kisah ini menggambarkan tentang tirai kekuatan iman seorang perempuan yang dianggap najis dan dipandang sebelah mata karena penyakitnya. Namun Yesus menggunakan penderitaan yang dinajiskan tersebut menjadi sebuah sarana mujizat yang memuliakan Allah.

Kisah perempuan yang berzinah (Yohanes 7 : 53 – 8 : 11). Ahli taurat dan orang Farisi membawa perempuan itu kepada Yesus untuk dihakimi karena berbuat zinah. Yesus membela perempuan yang dihakimi itu dengan menegaskan bahwa orang yang tidak berdosalah yang harus melemparkan batu pertama untuk merajam perempuan itu. Lalu ahli taurat dan orang Farisi pergi tanpa ada yang melemparkan batu. Yesus berdiri dan berkata: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Kisah ini menggambarkan tentang tirai kelam standar ganda seksualitas yang diterapkan pada perempuan. Namun Yesus menolak menghakimi perempuan yang berzinah, sebaliknya Yesus justru memberi kesempatan yang sama untuk bertobat dan memperbaiki kehidupannya.

Kisah perempuan Samaria yang menimba air (Yohanes 4 : 5 – 42); Mengambarkan tirai persembunyian dimana ia merasa malu untuk keluar dari persembunyiannya. Ia membawa tempayan dan menimba air di siang hari supaya tidak ada orang yang melihatnya. Yesus menyapa dan memanusiakan perempuan Samaria yang memiliki 5 suami dan tinggal dengan laki – laki yang bukan suaminya itu dengan meminta air kepadanya. Perempuan itu heran sampai berkata, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?”  Yesus memberikan peran penting pada seorang Samaria yang dianggap berada di posisi termarginalisasi dan dipandang rendah oleh masyarakat tapi Yesus mengubahnya, pada akhirnya perempuan itu menjadi saksi-Nya. Kisah ini menggambarkan tirai persembunyian dimana perempuan ini merasa malu dengan kehidupannya dan dimarginalkan masyarakat. Namun perjumpaannya dengan Yesus menjadi titik balik hidupnya. Dia yang bersembunyi dan terasingkan serta merasa rendah diri jadi berubah dan ikut ambil bagian dalam pewartaan.

Kisah – kisah tersebut menjadi contoh nyata bagaimana Yesus menghargai kaum perempuan, membuka tirai persembunyian dengan mengasihi dan mengampuni orang berdosa. Di masa kini, Gereja juga terus berusaha dan berkembang untuk semakin banyak melibatkan perempuan dalam karya perutusan dan pelayanan. Paus Fransiskus menunjuk tiga perempuan untuk bergabung dalam Dikasteri untuk para Uskup di Vatikan. Salah satunya adalah Sr. Raffaella Petrini, F.S.E sebagai Sekretaris Jenderal di Vatikan. Selanjutnya, Paus Leo XIV juga menunjuk Maria Montserrat Alvarado sebagai Presiden and Chief Operating Officer EWTN News (Prefek Dikasteri untuk komunikasi).

Gereja berpusat pada ajaran kasih Yesus yang tidak membedakan umat-Nya karena kita semua adalah sama-sama ciptaan dan citra Allah. Maka, jika ada di antara kita yang masih bersembunyi di balik tirai, melangkahlah keluar dan dengarkanlah panggilan-Nya. Berdoalah dengan kerendahan hati dan kesungguhan: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.” Semoga kita yang masih dalam perjalanan ziarah di dunia ini, memilih jalan kebenaran dan menabur kasih kepada sesama terutama mereka yang terabaikan dan tersingkir karena struktur sosial yang tidak adil.

Uncategorized