Setelah tiga kali mengadakan webinar online dari awal tahun 2026, Sub Seksi Kesetaraan Gender mengadakan seminar dengan tema “Perempuan & Laki-laki saling menghormati dan menghargai.” Sub Seksi Kesetaraan Gender bersama Romo Paroki (Stephanus Berty Tijow, MSC) dan dua narasumber Prof. Dr Elizabeth Kristi Poerwandari M.Hum (Paroki Jatiwaringin) dan Sr. Caecilia Supriati, RGS (Paroki Matraman) membahas bagaimana kesetaraan gender diharapkan bisa diterjemahkan dan dilakoni dengan baik dalam kehidupan masyarakat dan lingkup gereja. Ini bukan sekedar tentang siapa yang lebih kuat, siapa yang memimpin, siapa yang boleh berekspresi, siapa yang bisa berkarier dan mewujudkan impiannya. Namun menyadari bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai identitas sebagai citra Allah yang diberi nafas kehidupan untuk menjadi berkat.
Romo Berty membuka pembicaraan ini dengan mengangkat ensiklik Paus Leo XIV, MagnificaHumanitas (2026), tentang kecerdasan buatan (AI) dan identitas manusia. Dalam Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV menyampaikan bahwa kecerdasan buatan (AI) sebagai tantangan terbesar kemanusiaan dan berharap teknologi tidak memudarkan identitas dan jati diri manusia justru sebaliknya menjadi pribadi yang lebih menghormati martabat manusia. (Source Vatican News)
Kesetaraan gender bukan berarti harus seragam dan harus dibentuk dengan warna yang sama, melainkan mendapatkan kesamaan pengakuan dan kesempatan tanpa mendominasi, merendahkan atau menghapus perbedaan ataupun keunikan manusia.
Manusia terbentuk dari perkembangan embrio dengan segala keragaman bentukan wajah, tungkai, sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem reproduksi, rangka tulang, jaringan otot, sistem peredaran darah, dan lainnya yang sama. Oleh karena itu, baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kebutuhan yang sama secara biologis. Secara psikologis mereka juga punya kebutuhan untuk bisa bertahan hidup (merasa aman), dicintai dengan tulus, diakui kemampuannya, menerima penghargaan akan usahanya, berhak untuk menentukan pilihan hidup dan berharap keberadaannya diterima orang lain (Deci & Ryan, 1985).
Informasi dan berita yang beredar mengenai ketimpangan dan ketidakadilan menjadi pengingat untuk tetap bertumbuh dalam kasih Allah. Di berbagai negara dengan budaya patriaki, konstruksi gender masih sering memposisikan laki-laki jauh lebih tinggi daripada perempuan berdasarkan norma sosial dan budaya. Salah satu contohnya, melalui sebuah buku karya Xinran tahun 2002 berjudul The Good Women of China: Hidden Voices, buku ini mengisahkan tentang kebijakan satu anak di Negara Tirai Bambu yang menyebabkan orang tua lebih memilih melahirkan anak laki-laki daripada perempuan. Di situlah permulaan penderitaan anak perempuan saat dilahirkan, ditolak dan dibuang karena tekanan budaya dan gejolak politik.
Ada juga tentang bagaimana sepasang suami istri yang berusaha bertahan hidup dengan mencoba bertukar peran dalam keluarga. Namun terbentur dengan aturan masyarakat yang mengharuskan laki-laki untuk bekerja sebagai kepala keluarga dan perempuan sebagai seorang ibu yang mengurus anak. Ada banyak kejadian mengenai eksploitasi, manipulasi serta kekerasan seksual yang terjadi terutama pada perempuan. Begitulah dunia berputar dengan masalah dan kerumitannya. Maka dari itu, mungkin yang diperlukan adalah sebuah kedamaian dan belas kasih Allah untuk menjalani kehidupan ini.
Penyadaran akan isu ketimpangan ini sudah lama digaungkan gereja. Salah satunya melalui suratgembala 2004 yang berbicara tentang kesetaraan perempuan dan laki-laki sebagai citra Allah. Dokumen ini juga mengajak kita untuk menyadari isu ini dan mulai melakukan perubahan sikap dan perbuatan yang melukai kesetaraan martabat yang mendatangkan penderitaan bagi kaum perempuan.
Mari kita mulai dengan refleksi sikap dan tindakan diri dalam keluarga, komunitas danmasyarakat. Apakah kita dapat melihat dan merasakan ketimpangan yang ada di sekitar kita?
Bagaimana setiap ucapan dan tindakan yang kita lakukan bisa berbuah untuk kebaikan bersama? Apakah kita menghormati dan menghargai orang lain tanpa memandang perbedaan?
Kiranya pada tahun 2026 ini, kita dapat belajar dari Santo Fransiskus Asisi untuk menjadi pembawa damai. “Tuhan, jadikanlah aku alat perdamaian-Mu; dimana ada kebencian, biarlahaku membawa kasih.”
Hiduplah dalam kebenaran meskipun terkadang kita tidak tahu arahnya; Libatkan Roh Kudus dalam keheningan batin; Setialah dalam masa penantian agar belas kasih Allah akan dinyatakan pada waktu-Nya.
Referensi
Deci, E. L., & Ryan, R. M. (1985). Intrinsic motivation and self-determination in human behavior. Plenum Press.
Konferensi Waligereja Indonesia. (2004). Kesetaraan perempuan dan laki-laki sebagai citra Allah: Surat gembala Konferensi Waligereja Indonesia tahun 2004.
Leo XIV, Pope. (2026, May 15). Magnifica humanitas [Encyclical letter]. The Holy See. https://www.vatican.va/content/leo-xiv/en/encyclicals/documents/20260515-magnifica-humanitas.html [1] (https://www.vatican.va/content/leo-xiv/en/encyclicals/documents/20260515-magnifica-humanitas.html)