Kalau dalam Minggu Paskah III, Tuhan yang bangkit dialami terus oleh Gereja, dan oleh mereka yang percaya akan Yesus Kristus, melalui Perjamuan Tubuh dan Darah Tuhan (Ekaristi); Minggu Paskah IV ini, perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit dialami melalui mereka yang merayakan Ekaristi, yakni para imam. Para imam yang menjadi tanda kehadiran Tuhan yang bangkit diharapkan untuk serentak menghadirkan kuasa dan pelayanan Yesus, Sang Gembala yang baik sebagai model hidup dan pelayanan para imam. Itulah sebabnya, Minggu Paskah IV sering disebut juga Minggu Gembala yang Baik, dan dirayakan sebagai Minggu Panggilan.
Pada kesempatan Minggu Doa Sedunia untuk Panggilan (Minggu Panggilan), seluruh warga Gereja diajak untuk merenungkan dan menghangatkan dalam dirinya rasa keterpanggilan Tuhan. Yesus memanggil semua orang untuk mengikuti Dia, untuk meneladan cara hidup-Nya dan untuk menjadi “alat dan tanda” kehadiran-Nya di tengah dunia dewasa ini. Oleh Baptisan, kita tidak hanya menjadi murid Anak Allah, menjadi murid/pengikut Yesus dan menjadi warga Gereja/Umat Paroki; lebih daripada itu, Minggu Panggilan ini, kembali mengajak, mendorong dan mengutus semua orang yang percaya kepada Yesus untuk “terutus ke tengah dunia, seperti Yesus, menjadi Nabi, Imam dan Raja”. Kita semua berdoa dan memohon rahmat Allah, agar anugerah dan perutusan yang teah kita terima lewat Baptisan, sungguh-sungguh kita hidupi. Dunia terus membutuhkan kehadiran dan karya Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat, melalui kehadiran dan karya murid-murid Yesus, lewat karya sebagai Nabi (yang mengajar dan menyuarakan kebenaran Injil), sebagai Imam (yang menguduskan dunia dengan doa dan kurban) dan sebagai Raja (yang menuntun, membimbing dan menggembalakan kawanan domba yang dipercayakan Bapa, Sang Pemilik Kawanan Domba itu).
Selain daripada itu, melalui Minggu Panggilan ini, Gereja mengajak dan menggerakkan warga Gereja untuk terlibat aktif dalam upaya untuk menumbuhkembangkan panggilan khusus, baik panggilan hidup imamat (menjadi Pastor/Romo) maupun panggilan hidup membiara (menjadi Suster, Frater atau Bruder). Keterlibatan aktif umat Allah itu diungkapkan lewat doa (dengan turut serta mendoakan munculnya dan berkembangnya panggilan khusus itu), lewat derna (dengan memberikan persembahan/derma yang akan dikumpulkan oleh Gereja untuk membiayai hidup, pembinaan dan karya para imam/calon imam) dan kurban (yakni kerelaan dan pengorbanan keluarga-keluarga untuk memberikan dan menyerahkan anak-anaknya untuk dipakai Tuhan menjadi tanda kehadiran-Nya melalui cara hidup sebagai imam, biarawan dan biarawati). Umat Allah, marilah kita berkurban untuk hal-hal itu demi tersedianya terus orang- orang yang menjadi tanda kehadiran Tuhan yang Bangkit di tengah umat Allah dan umat manusia pada umumnya.
Minggu Panggilan 2026 ini, dituntun oleh Pesan Paus Leo XIV untuk Minggu Doa Sedunia untuk Panggilan ke-63, Minggu 26 April 2026, dengan tema, “Bersatu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi”, dan diinspirasi oleh bacaan-bacaan pada Minggu Paskah IV ini, segenap umat berimam didorong untuk semakin membuat dirinya bersatu dengan Kristus, Tuhan yang Bangkit. Ekaristi adalah anugerah yang Allah berikan kepada kita agar kita semakin menyatu dengan Kristus. Persatuan (communio) dengan Kristus lewat Komuni Suci semoga selalu mengungkapkan hasrat, kerinduan dan upaya kita untuk terus bersatu dengan Kristus. Namun, tidak cukuplah, kita telah bersatu dengan Kristus. Kesatuan dengan Kristus itu, mestinya, membuat kita juga menyatu dengan impian, cita-cita dan misi Yesus Kristus, yang terus dilanjutkan oleh Gereja hingga saat ini. Justru dikuatkan oleh Tubuh dan Darah Kristus, kita dimampukan dan disertai dalam ambilbagian dalam Misi Kristus. Semakin kita sering ambilbagian dalam Ekaristi, mestinya, semakin sering, giat dan bersemangat juga kita untuk terlibat dalam aksi gereja dan umat Allah dalam mewujudkan amanat Yesus, mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini; Kerajaan Allah, yang dalam konteks dunia dewasa ini, adalah Kerajaan Damai, situasi hidup umat manusia yang tiada perang, tiada konflik dan tiada korban; dan bersama-sama mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.
Berdoalah senantiasa, hai Umat Allah, agar kita semua kembali bersemangat untuk pergi, seperti Yesus, menyapa siapa saja yang dijumpai dengan seruan, “Damai sertamu!”. Kita semua terutus untuk menghadirkan damai, mulai dari rumah kita masing-masing. Berdoalah senantiasa pula, agar para imam, suster, frater dan bruder, terus bertumbuh dan berkembang dalam jumlah, dan semakin unggul juga dalam kualitas hidup yang diminta Allah dan didambakan dunia. Semoga di tengah dunia modern ini, dunia tidak kekurangan saksi-saksi (imam, biarawan-biarawati dan umat awam) yaang sungguh-sungguh, “Bersatu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi”.
Saya senantiasa bersyukur karena Tuhan telah memanggil saya, mengurapi saya menjadi imam-Nya dan menyertai hidup dan karya saya sebagai imam selama 25 Tahun (sejak 28 April 2001). Saya bersyukur karena kesetiaan Tuhan menerima diri saya, menyertai saya melalui begitu banyak orang yang telah memperhatikan, mendoakan, menegur dan menghibur saya di sepanjang perjalanan hidup sebagai MSC dan sebagai Imam-Nya. Sambil saya bersyukur, saya berdoa agar tangan ini tetap dan terus mengangkat dan membagi-bagikan Tubuh dan Darah Tuhan, hingga saatnya kembali ke Rumah Bapa, karena atas cara itulah saya semakin bersatu dalam Kristus dan bersatu dalam Misi-Nya; dan agar semua itu terwujud, semoga terus ada orang-orang yang mendoakan, mendukung dan mau berjalan bersama saya di jalan pengudusan diri dan umat Allah ini.
Selamat Minggu Panggilan 2026, dan mari berjalan bersama untuk menjadi tanda kehadiran Tuhan yang bangkit di tengah umat Allah dan umat manusia pada umumnya, menurut jalan dan cara hidup (panggilan) kita masing-masing.
Aku datang untuk melaksanakan kehendak-Mu, ya Tuhan.
(Ibr 10:9)