Pernahkah merenungkan cara kita mencintai dan dicintai? Seberapa peka perasaan dan seberapa tajam logika kita untuk memaknai sebuah relasi yang ‘toxic’ (toksik) dan sehat?
Membangun relasi seperti merajut benang cinta. Ada pertemuan pertama, ada simpul pertama. Ada warna – warni kehidupan, ada warna – warni benang. Ada kebiasaan, ada polanya. Kita berproses untuk membuat pita kehidupan yang indah dan bermakna. Namun dibutuhkan waktu untuk mengenal, kesadaran untuk menjalani, serta kejujuran untuk berani mengambil keputusan tepat; Karena sebuah relasi / hubungan bisa menjadi sumber kebahagiaan atau sebaliknya akar kepahitan.
Oleh karena itu dengan secercah harapan dan satu langkah kepedulian, sub seksi Kesetaraan Gender Gereja Kristoforus Paroki Grogol berkolaborasi dengan seksi Kesetaraan Gender & Kesehatan Mental Gereja Leo Agung Paroki Jatiwaringin mengadakan sesi webinar ke-2 tentang ‘Toxic & Healthy Relationship’, dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Kristi Poerwandari M.Hum., Psikolog (Bu Kristi) dan Sr. Caecilia Supriati, RGS.
Topik ini meliputi berbagai relasi yang sering kita rasakan sehari – hari dengan pasangan, orang tua dengan anak, sanak keluarga, atasan dengan bawahan, di komunitas dan lingkungan sekitar; Bahkan menghadirkan sudut pandang yang menarik bagaimana Tuhan Yesus pun menghadapi tantangan dengan karakteristik para murid-Nya yang berbeda – beda.
Bu Kristi mengatakan tanda – tanda dari relasi yang toksik dan sehat dapat dirasakan di keseharian: ketakutan atau kenyamanan, diremehkan atau dihargai, terancam atau aman, takut salah atau percaya diri, diisi letupan-letupan emosi atau damai, menghambat atau menghadirkan pertumbuhan. Tidak semua relasi itu sehat, namun kita mampu merasakan energi positif dan negatif dari orang sekitar, serta menentukan seberapa kuat pengaruhnya dalam kehidupan. Di sisi lain, jika kita belum memiliki gambaran utuh dan kematangan dalam menentukan batasan, kita bisa keliru saat berhadapan dengan bayangan orang lain yang awalnya kita kira menemani, namun nyatanya mengendalikan, melelahkan, menakutkan dan berpotensi melukai / membahayakan diri.
Sr. Lia berbagi cerita dengan para peserta webinar mengenai kisah toksik dimana ada sepasang kekasih yang awalnya menganggap bahwa cemburu yang berlebihan adalah tanda cinta sejati, tapi seiring berjalannya waktu ternyata itu adalah ciri relasi toksik yang mau mengontrol dan membatasi ruang lingkup pasangannya. Pasangan suami istri yang salah satu pasangannya dominan sehingga menyebabkan perselingkuhan dan menjadikan kenangan pahit yang tidak dapat dilupakan apalagi dimaafkan.
Ada juga kisah antara atasan, dimana bawahan harus selalu mengiyakan permintaan atasan tanpa bisa berargumentasi. Atau antara orang tua dengan anak, dimana orang tua memaksakan pendapat karena berharap yang terbaik untuk anaknya, namun di sisi lain seorang anak juga membutuhkan ruang berekspresi dan belajar.
Kita diajak untuk meneladani sikap Tuhan Yesus saat menghadapi para murid-Nya yang mempunyai karakteristik toksik. Thomas yang tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit sebelum ia mencucukkan jarinya ke bekas luka tangan Yesus, Yudas Iskariot yang menyerahkan Yesus ke para lawan-Nya dengan ciuman demi uang, serta Petrus yang selalu ingin tampil hebat namun ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali.
Kita pun dihadapkan dengan kondisi yang tidak mudah saat berelasi dengan orang lain. Untuk itu kita perlu lebih mampu mengenali kebutuhan diri, mengenali batasan, berani untuk menolak, mencari dukungan, serta lebih mampu mengontrol emosi. Kita juga perlu berkomunikasi dengan orang terdekat serta orang yang ahli di bidangnya bila memerlukan bantuan.
Orang yang toksik mungkin memiliki latar belakangnya sendiri; Kadang tumbuh dari pola asuh yang terlalu diistimewakan atau sebaliknya tidak mendapat perhatian saat masa kecil; Mungkin juga mengalami trauma masa lalu yang meninggalkan bekas luka sampai sekarang; Atau ada ketakutan akan ditinggalkan dan pemahaman yang keliru tentang mencintai dengan obsesif sehingga melukai orang lain. Apabila masuk dalam relasi yang toksik , kita tidak perlu menghakimi tetapi perlu mengingatkan diri sendiri dan orang lain tersebut untuk mengetahui dan menjaga ‘boundary’ (batasan) yakni dengan mempertahankan sikap menghormati satu sama lain (respek). Kita mungkin tidak dapat mengubahnya, dan bukan tidak mungkin akan terjerat sebagai korban bila berupaya keras menjadi martir. Dalam situasi sulit, kita dapat berdoa meminta pertolongan Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah supaya kita dimampukan menghadapi simpul – simpul masalah kehidupan ini dan mempercayakan benang kehidupan kita kepadanya.
Semoga kita tidak menjadi akar kepahitan untuk orang lain namun sebaliknya menjadi lilin – lilin yang menerangi orang – orang sekitar dengan pikiran, perkataan dan perilaku kita. Semoga benang cinta kita tetap kuat untuk saling menerima dan memberi bukan menyudutkan dan memaksakan karena sebuah relasi harusnya menjadikan kita tetap utuh dengan identitas pribadi tanpa harus berpura – pura menjadi orang lain. Mari merangkai benang kehidupan yang indah dan bermakna, dengan tetap berjalan dalam kasih dan penyertaan Tuhan Yesus.